Senin, 12 Desember 2016

Bonda, salah satu bahasa di Gorontalo di ambang kepunahan



Bonda adalah bahasa yang sering digunakan disekitar daerah suwawa dan daerah pantai selatan Bone Bolango. Bahasanya memang terbilang susah oleh orang-orang yang tidak mengetahahuinya, akan tetapi bahasa ini adalah salah satu  bahasa di daerah Gorontalo yang harus tetap di jaga dan dilestarikan.
Menurut cerita  cerita rakyat, disebutkan bahwa suku Suwawa sebagai Tiyombu(nenek moyang) dalam U Duluwo Limo Lo Pohalaa dan sejarah persebaran bangsa Witohiya dan Pidodotiya yang merupakan nenek moyang suku di Gorontao sampai ke Sulawesi Tengah. Bahasa Suwawa memiliki banyak kesamaan dengan bahasa mongondow, menurut kisah,  kedua daerah ini dahulunya diperintah oleh dua orang bersudara, Raja Pulumoduyo di Suwawa dan Raja Mooduto dari Bolaang Mongondow. Keduanya berperang dan dimenangkan oleh Raja Mooduto  dan kematian Pulumoduyo di Pinogu. Sejarah Bonda dapat di telusuri melalui makam raja-raja Kerajaan Suwawa yang dapat dilihat di daerah hulu sungai Bulawa , dikaki bukit Sinandaha.
Bahasa Bonda saat ini mengalami krisis diambang kepunahan, karena generasi muda di Suwawa sepertinya mulai enggan berbicara dalam bahasa Bonda. Ayhu adalah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo dari Suwawa mengatakan “kenapa generasi muda enggan berbahasa Bonda? Karena mereka lebih suka berbicara bahasa gaul dan ikut ikutan bahasa atau wawahea . Contohnya seperti Cius Miapah?, artinya serius demi apa?, Woles yang artinya nyantai ajah, Rempong  artinya ribet,  Hoax  artinya palsu , kepo artinya pengen tau lebih, mager  artinya malas gerak dan msih banyak lagi”
Bahasa Bonda biasa orang Suwawa menyebutnya, merupakan salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di daerah Suwawa, Bone Bolango, itupun hanya sebagian yang mampu menuturkan dengan baik. Salah satu warga Suwawa tepatnya di Boludawa yang saya temui Beberapa desa di Suwawa terutama yang di bagian Timur, masyarakatnya masih dengan fasih menggunakan bahasa Bonda. Desa Tulabolo dan Pinogu merupakan tempat yang masih menggunakan bahasa Bonda sebagai bahasa sehari-harinya.
Anak muda sekarang  yang menggunakan bahasa Bonda merasa minder dan malu karena saat dia berbicara dianggap seperti kampungan” kata welly, warga Kabila. Dikalangan generasi tua pun, bahasa di pandang sebagai bahasa yang kurang menarik. Sehingga ketika ada orang yang misalnya bercakap-cakap dengan keras di pastikan seperti orang Bonda yang sedang berdebat dan seperti orang jalo-jalo (marah-marah).
“Adona Habari?” sapa Aidah Latedu, perempuan setengah baya di Desa Tulabolo Suwawa Timur. Kalimat tersebut berarti wololo habari dalam bahasa Gorontalo, di indonesiakan menjadi apa kabar?. “Piya-piya” jawab saya. Yang berarti piyo-piyohu, baik.
Semakin menurunya penutur bahasa penutur bahasa Bonda, merupakan gejala yang harus diwaspadai, bahasa ini merupakan salah satu keanekaragaman budaya Gorontalo yang bernilai tinggi. Apalagi penelitian tentang bahasa ini belum banyak dilakukan. Sungguh mengecewakan. Kemana saja pemerintah? Kenapa hal ini tidak diperhatikan?. Keengganan menggunakan dalam percakapan sehari-hari oleh satuan masyarakat terkecil, keluarga, bisa berdampak  pada proses kepunahanya. Keluarga merupakan basis pengenalan bahasa Bonda yang efektif , melalui orang tua bahasa ini dikenalkan pada anak-anaknya melalui komunikasi sehari-hari. Salah satu warga Ulanta yang saya temui, sebut saja Ira mengatakan “Kami disini sdah tidak menggunakan bahsa Suwawa lagi, karena orang tua dan juga tetangga sdah tidak mengetahi bahasa itu, faktor lingkunganlah sehingganya bahasa ini sepertinya hilang.
Wajib kita ketahui fungsi bahasa Daerah merupakan salah satu sarana pendidikan dini sebagai landasan pengembangan bahasa. Jika bahasa ini punah, maka sumber dari bahasa inipun lenyap dan tak akan kita dengarkan lagi.
Penutur muda bahasa Bonda juga seringkali menemukan bahwa bahasa mereka dipandang remeh karena nadanya yang bernada sdikit panjang. Misalnya ketika dengan sopan dan dalam dialek sehari-hari, mengucapkan, “somo pulang kamiii”, yang maknanya adalah hendak pamit pulang. “ada di mana nganaaaa?” yang maknanya menayakan dimana seseorang(tunggal).
Siang hari Saat sedang menyusuri jalanan  sempit di kampung kelahiranku Suwawa tepatnya di Desa Tulabolo Barat Kecamatan Suwawa Timur, tak sengaja bertemu petuah di Desa itu, Opa Nini begitulah masyarakat memanggilnya, dialah yang memberi tahu beberapa informasi mengenai bahasa Suwawa atau Bonda. Kamipun singgah di tempat makanan Ta Nou untuk beristirahat sejenak melepas dahaga sambil ngobrol. Harapan opa Nini bahwa bahasa Bonda harus tetap diletasikan, harus ada peran dan keikutsertaan orang tua dalam membimbing anak-anak untuk menggunakan bahasa ini, Dan juga bisa di masukan dalam sarana pendidikan bahasa Daerah di tiap sekolah.
Tak lama sambil menikmati minuman dingin terdengar syair tua yang didendangkan Opa Nini , “Toguwata u kawasa, Mogongge mayi inomata. Odatagia buidiya. Tuwa no lipu no sadiya. Mokalaja mo pooiya. Pinomula no wali niya. Bangudo, bangudo, tige, tigedo mayi, popati, popati, duda, dudago, digonido mayi,bunggalo buatido
Yang  artinya Tuhan maha kuasa, Memberikan rahmat, didaratan dan gunung, Isi tempat tersedia, bekerja sambil memperbaiki, tanaman akan berhasil, bangun,bangun, berdiri, cangkul dan parang dibawa, kebun silakan di buka.
           

Minggu, 04 Desember 2016

Bonda, Bahasa Tertua Gorontalo Terancam Punah



Bonda adalah bahasa yang sering digunakan disekitar daerah suwawa dan daerah pantai selatan Bone Bolango. Bahasanya memang terbilang susah oleh orang-orang yang tidak mengetahahuinya, akan tetapi bahasa ini adalah bahasa tertua di daerah Gorontalo yang harus tetap di jaga dan dilestarikan.
Kenapa Bonda dipercaya sebagai bahasa tertua di Gorontalo? Karena dilihat dari cerita rakyat, disebutkan bahwa suku Suwawa sebagai Tiyombu(nenek moyang) dalam U Duluwo Limo Lo Pohalaa dan sejarah persebaran bangsa Witohiya dan Pidodotiya yang merupakan nenek moyang suku di Gorontao sampai ke Sulawesi Tengah. Bahasa Suwawa memiliki banyak kesamaan dengan bahasa mongondow, menurut kisah,  kedua daerah ini dahulunya diperintah oleh dua orang bersudara, Raja Pulumoduyo di Suwawa dan Raja Mooduto dari Bolaang Mongondow. Keduanya berperang dan dimenangkan oleh Raja Mooduto, dan kematian Pulumoduyo di Pinogu. Sejarah Bonda dapat di telusuri melalui makam raja-raja Kerajaan Suwawa yang dapat dilihat di daerah hulu sungai Bulawa , dikaki bukit Sinandaha.
Bahasa Bonda saat ini mengalami krisis diambang kepunahan, dikarenakan generasi muda di Suwawa sepertinya mulai enggan berbicara dalam bahasa Bonda, mereka lebih suka berbicara bahasa Gorontalo atau bahasa Manado, ada juga yang suka berbahsa gaul. Bahasa Bonda biasa orang Suwawa menyebutnya, merupakan salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat yang mendiami daerah Suwawa, Bone Bolango, itupun hanya sebagian yang mampu menuturkan dengan baik. Beberapa desa di Suwawa terutama yang di bagian Timur, masyarakatnya masih dengan lugas menggunakan bahasa Bonda. Desa Tulabolo merupakan Desa yang menggunakan bahasa Bonda sebagai bahasa sehari-harinya. “Kalau di Pinogu masyarakatnya juga masih murni menggunakan bahasa Bonda, dengan kondisi ini justru yang akan menjaga kemurnian kekayaan budaya Gorontalo ini” kata Farida.
“Seringkali anak-anak yang menggunakan bahasa Bonda merasa mider dan malu karena saat dia berbicara dianggap seperti kampungan” kata welly, warga Kabila. Dikalangan generasi tua pun, bahasa di pandang sebagai bahasa yang kurang menarik. Sehingga ketika ada orang yang misalnya bercakap-cakap dengan keras di pastikan madelo bune butoolo (seperti orang Bonda yang sedang berdebat).
“Adona Habari?” sapa Aidah Latedu, perempuan setengah baya di Desa Tulabolo Suwawa Timur. Kalimat tersebut berarti wololo habari dalam bahasa Gorontalo, di indonesiakan menjadi apa kabar?. “Piya-piya” jawab saya. Yang berarti piyo-piyohu, baik.
Semakin menurunya penutur bahasa penutur bahasa Bonda ini merupakan gejala yang harus diwaspadai, bahasa ini merupakan salah satu keanekaragaman budaya Gorontalo yang bernilai tinggi. Apalagi penelitian tentang bahasa ini belum banyak dilakukan. Sungguh mengecewakan. Keengganan menggunakan dalam percakapan sehari-hari oleh satuan masyarakat terkecil, keluarga, bisa berdampak signifikan pada proses kepunahanya. Keluarga merupakan basis pengenalan bahasa Bonda yang efektif , melalui orang tua bahasa ini dikenalkan pada anak-anaknya melalui komunikasi sehari-hari. Wajib kita ketahui fungsi bahasa Daerah merupakan salh satu sarana pendidikan dini sebagai landasan pengembangan bahasa. Jika bahasa ini punah, maka sumber dari bahasa inipun lenyap dan tak akan kita dengarkan lagi.
Penutur muda bahasa Bonda juga serinkali menemukan bahwa bahasa mereka dipandang remeh karena nadanya yang bernada sdikit panjang. Misalnya ketika dengan sopan dan dalam dialek sehari-hari, mengucapkan, “somo pulang kamiii,” yang maknanya adalah hendak pamit pulang.
Siang hari Saat sedang menyusuri jalanan  sempit di kampung kelahiranku Suwawa tepatnya di Desa Tulabolo Barat Kecamatan Suwawa Timur, tak sengaja bertemu petuah di Desa itu, Opa Nini begitulah masyarakat memanggilnya, dialah yang memberi tahu beberapa informasi mengenai bahasa Suwawa atau Bonda. Kamipun singgah di tempat makanan Ta Nou untuk beristirahat sejenak melepas dahaga. Tak lama sambil menikmati minuman dingin terdengar syair tua yang didendangkan Opa Nini , “Toguwata u kawasa, Mogongge mayi inomata. Odatangia buidiya. Tuwa no lipu no sadiya. Mokalaja no pooiya. Pinomula no wali niya. Bangudo, bangudo, tige, tigedo mayi, popati, popati, duda, dudago, digonido mayi….