Bonda adalah bahasa yang sering
digunakan disekitar daerah suwawa dan daerah pantai selatan Bone Bolango.
Bahasanya memang terbilang susah oleh orang-orang yang tidak mengetahahuinya, akan
tetapi bahasa ini adalah salah satu bahasa di daerah
Gorontalo yang harus tetap di jaga dan dilestarikan.
Menurut cerita cerita rakyat, disebutkan
bahwa suku Suwawa sebagai Tiyombu(nenek moyang) dalam U Duluwo Limo Lo Pohalaa
dan sejarah persebaran bangsa Witohiya dan Pidodotiya yang merupakan nenek
moyang suku di Gorontao sampai ke Sulawesi Tengah. Bahasa Suwawa memiliki
banyak kesamaan dengan bahasa mongondow, menurut kisah, kedua daerah ini dahulunya diperintah oleh dua
orang bersudara, Raja Pulumoduyo di Suwawa dan Raja Mooduto dari Bolaang
Mongondow. Keduanya berperang dan dimenangkan oleh Raja Mooduto dan kematian Pulumoduyo di Pinogu. Sejarah Bonda dapat di telusuri
melalui makam raja-raja Kerajaan Suwawa yang dapat dilihat di daerah hulu
sungai Bulawa , dikaki bukit Sinandaha.
Bahasa Bonda
saat ini mengalami krisis diambang kepunahan, karena generasi muda di Suwawa
sepertinya mulai enggan berbicara dalam bahasa Bonda. Ayhu adalah mahasiswa Universitas Negeri
Gorontalo dari Suwawa mengatakan “kenapa generasi muda enggan berbahasa Bonda?
Karena mereka lebih
suka berbicara bahasa gaul dan ikut ikutan bahasa atau wawahea . Contohnya
seperti Cius Miapah?, artinya serius
demi apa?, Woles yang artinya nyantai
ajah, Rempong artinya ribet,
Hoax artinya palsu , kepo artinya pengen tau lebih, mager
artinya malas gerak dan msih banyak
lagi”
Bahasa Bonda biasa orang Suwawa
menyebutnya, merupakan salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian
masyarakat yang tinggal di daerah Suwawa,
Bone Bolango, itupun hanya sebagian yang mampu menuturkan dengan baik. Salah
satu warga Suwawa tepatnya di Boludawa yang saya temui Beberapa desa di Suwawa
terutama yang di bagian Timur, masyarakatnya masih dengan fasih
menggunakan bahasa Bonda. Desa Tulabolo dan Pinogu merupakan
tempat yang masih menggunakan
bahasa Bonda sebagai bahasa sehari-harinya.
“Anak muda sekarang yang menggunakan bahasa
Bonda merasa minder dan malu
karena saat dia berbicara dianggap seperti kampungan” kata welly, warga Kabila.
Dikalangan generasi tua pun, bahasa di pandang sebagai bahasa yang kurang
menarik. Sehingga ketika ada orang yang misalnya bercakap-cakap dengan keras di
pastikan seperti orang Bonda yang sedang berdebat dan seperti orang jalo-jalo
(marah-marah).
“Adona Habari?” sapa Aidah Latedu,
perempuan setengah baya di Desa Tulabolo Suwawa Timur. Kalimat tersebut berarti
wololo habari dalam bahasa Gorontalo, di indonesiakan menjadi apa kabar?.
“Piya-piya” jawab saya. Yang berarti piyo-piyohu, baik.
Semakin menurunya penutur bahasa
penutur bahasa Bonda, merupakan
gejala yang harus diwaspadai, bahasa ini merupakan salah satu keanekaragaman
budaya Gorontalo yang bernilai tinggi. Apalagi penelitian tentang bahasa ini belum
banyak dilakukan. Sungguh mengecewakan. Kemana saja pemerintah? Kenapa hal ini
tidak diperhatikan?. Keengganan menggunakan dalam percakapan sehari-hari oleh
satuan masyarakat terkecil, keluarga, bisa berdampak pada proses kepunahanya. Keluarga merupakan
basis pengenalan bahasa Bonda yang efektif , melalui orang tua bahasa ini
dikenalkan pada anak-anaknya melalui komunikasi sehari-hari. Salah satu warga Ulanta yang saya temui, sebut
saja Ira mengatakan “Kami disini sdah tidak menggunakan bahsa Suwawa lagi,
karena orang tua dan juga tetangga sdah tidak mengetahi bahasa itu, faktor
lingkunganlah sehingganya bahasa ini sepertinya hilang.
Wajib kita ketahui fungsi bahasa
Daerah merupakan salah satu sarana
pendidikan dini sebagai landasan pengembangan bahasa. Jika bahasa ini punah,
maka sumber dari bahasa inipun lenyap dan tak akan kita dengarkan lagi.
Penutur muda bahasa Bonda juga seringkali
menemukan bahwa bahasa mereka dipandang remeh karena nadanya yang bernada
sdikit panjang. Misalnya ketika dengan sopan dan dalam dialek sehari-hari,
mengucapkan, “somo pulang kamiii”, yang maknanya adalah hendak pamit pulang.
“ada di mana nganaaaa?” yang maknanya menayakan dimana seseorang(tunggal).
Siang hari Saat sedang menyusuri
jalanan sempit di kampung kelahiranku
Suwawa tepatnya di Desa Tulabolo Barat Kecamatan Suwawa Timur, tak sengaja
bertemu petuah di Desa itu, Opa Nini begitulah masyarakat memanggilnya, dialah
yang memberi tahu beberapa informasi mengenai bahasa Suwawa atau Bonda. Kamipun
singgah di tempat makanan Ta Nou untuk beristirahat sejenak melepas dahaga sambil ngobrol. Harapan opa
Nini bahwa bahasa Bonda harus tetap diletasikan, harus ada peran dan
keikutsertaan orang tua dalam membimbing anak-anak untuk menggunakan bahasa
ini, Dan juga bisa di masukan dalam sarana pendidikan bahasa Daerah di tiap
sekolah.
Tak lama sambil menikmati minuman
dingin terdengar syair tua yang didendangkan Opa Nini , “Toguwata u kawasa,
Mogongge mayi inomata. Odatagia buidiya. Tuwa no lipu no sadiya. Mokalaja mo
pooiya. Pinomula no wali niya. Bangudo, bangudo, tige, tigedo mayi, popati,
popati, duda, dudago, digonido mayi,bunggalo buatido
Yang artinya Tuhan maha kuasa, Memberikan rahmat,
didaratan dan gunung, Isi tempat tersedia, bekerja sambil memperbaiki, tanaman
akan berhasil, bangun,bangun, berdiri, cangkul dan parang dibawa, kebun silakan
di buka.